Mari kita sukseskan PSDSK 2014 pemerintah RI dengan optimalisasi fungsi Puskeswan

Rabu, 07 November 2012

Jembrana

Penyebab :
Jembarana virus. Menyerang sapi bali umur 3-4 tahun.

Gejala klinis :
Perdarahan di bawah kulit, kebengkakan kelenjar limfe (prefemoralis dan preskapularis), diare berdarah dan perdarahan kulit "berkeringat darah", peningkatan suhu tubuh hingga 42 ˚ C.

Sumber Penularan :
Ekskresi yang terbawa secara aerosol

Terapi/Pencegahan :

Terapi : supportif elektrolit, anti biotik spektrum luas.

Pencegahan : vaksin inaktif dan MLV

Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR)

Penyebab :
Bovine Herpes-virus tipe 1. Virus menyerang sapi usia 6 bulan ke atas.

Gejala :
Bentuk respiratorik : Peningkatan sementara frekuensi pernafasan diikuti peningkatan suhu tubuh hingga 42˚C, lesu, hypersalivasi, lakrimasi dan busung pada konjungtiva. Mukosa hidung sangat hiperemik" red nose" ( dasar diagnosa di lapangan).

Sumber Penularan :
Leleran hidung, air mata dan plasenta yang mengandung virus. Ditularkan secara parenteral dan aerosol

Pencegahan/Pengobatan :
Terapi : anti biotik spektrum luas, cairan elektrolit dan vitamin

Pencegahan : vaksinasi dengan virus yang dimatikan

Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR)

Penyebab :
Bovine Herpes-virus tipe 1. Virus menyerang sapi usia 6 bulan ke atas.

Gejala :
Bentuk respiratorik : Peningkatan sementara frekuensi pernafasan diikuti peningkatan suhu tubuh hingga 42˚C, lesu, hypersalivasi, lakrimasi dan busung pada konjungtiva. Mukosa hidung sangat hiperemik" red nose" ( dasar diagnosa di lapangan).

Sumber Penularan :
Leleran hidung, air mata dan plasenta yang mengandung virus. Ditularkan secara parenteral dan aerosol

Pencegahan/Pengobatan :
Terapi : anti biotik spektrum luas, cairan elektrolit dan vitamin

Pencegahan : vaksinasi dengan virus yang dimatikan

Bovine Viral Diarrhea

Penyebab :
BVD Virus. Menyerang sapi umur 6 – 24 bulan.

Gejala :
Bentuk subklinis : leukopenia, demam yang sedang, diare ringan.

Bentuk akut : berlangsung 1-30 hari, rata-rata 2-3 minggu, peningkatan suhu hingga 42˚C pada puncak kedua. Diare profus(berdarah) dengan tinja sangat cair, diare dan asidosis sehingga frekuensi pernafasan meningkat, keluar ingus yang mukopurulen(kental) berbau busuk dari hidung.

Sumber Penularan :
Makanan/minuman yang terkontaminasi feses. Penyakit juga bisa ditularkan secara aerosol (udara).

Pencegahan/Pengobatan :
Penyakit dapat dicegah dengan vaksinasi, dapat diobati dengan terapi cairan dan obat-obatan supportif dan antibiotik spektrum luas untuk mencegah infeksi sekunder.

Septicemi Epizootica (ngorok)

Penyebab :
Pasteurella multocida.

Gejala klinis :
Pada sapi akan tampak gejala kedunguan, salviasi (keluar air liur), demam 40-42o C, berbaring, malas bergerak, kesukaran bernafas
Bentuk tenggorokan : terjadi busung pada leher bagian ventral sampai ke gelambir.

Sumber Penularan :
Tinja, kemih, air susu dan saliva sesaat sebelum dan selama hewan sekarat yang selanjutnya menular ke hewan lain melalui saluran pernafasan atau saluran pencernaan

Pengobatan/pencegahan :
Tidak ada pengobatan yang efektif, penyakit dapat dicegah dengan vaksinasi.

Education poit :
1. Penyakit dapat menular dengan cepat, ternak-ternak dalam suatu wilayah harus segera divaksin apabila ada laporan kejadian kejadian penyakit.

2. SE lebih sering menyerang kerbau. Pemeriksaan : Apus darah/eksudat jaringan diperiksa dengan pengecatan Romanowsky atau pengecatan Leishman yang diencerkan.

Brucellosis

Penyebab :
Brucella abortus (pada sapi)

Gejala :

Tidak ada yang menciri kecuali terjadinya abortus antara hari ke 30-230. (Bulan ke enam, lebih utama pada Sapi). Pada beberapa kasus dapat pula dijumpai gejala higromata(pembengkaan pada sendi lutut), orchitis (radang testis), epididimitis.

Sumber Penularan :

Lendir yang keluar saat hewan mengalami abortus, susu yang tidak dipasteurisasi. Pengobatan/pencegahan : Tidak ada pengobatan yang efektif, penyakit dapat dicegah dengan melaksanakan vaksinasi.

Education Point :

1. Brucellosis bersifat zoonosis/menular kepada manusia. Bentuk infeksi pada manusia dapat dilihat Di sini.

2. Sapi yang menderita brucellosis pada umumnya tidak menampakkan gejala sakit sehingga harus waspada karena efek jangka panjang penyakit brucellosis bisa sangat merugikan secara ekonomi.

3. Penyakit pada ternak dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium ( RBT, CFT, SAT)

4. Ternak yang positif Brucellosis harus dipotong paksa, karkas masih dapat dikonsumsi namun organ reproduksi harus diafkir.

Sabtu, 15 September 2012

Anthraks

Penyebab :
Bakteri Bacillus anthracis.

Gejala :
Gejala pada sapi dan domba yang terserang penyakit anthraks (perakut) adalah kelemahan mendadak, demam, sesak nafas, kekejangan dan keluarnya darah berwarna gelap dari lubang lubang kumlah. Kematian bisa terjadi beberapa menit sampai beberapa hari.
Bisa juga ditandai dengan keluron (abortus) dan pembengkakan oedematous lunak yang panas pada jaringan di bawah kulit pada bagian perut bawah dan pinggang. Pada Kuda, kuda akan mengalami kolik dan kematian terjadi setelah beberapa hari.

Sumber Penularan :
Tanah dan air yang terkontaminasi spora anthraks.
Darah penderita anthraks (hewan).

Education Point : (Pencegahan dan Penanganan)

1.Hewan yang terserang anthraks tidak selalu menunjukkan gejala klinis, untuk itu perlu untuk selalu waspada apabila menemui ternak yang mati secara mendadak tanpa gejala yakni dengan cara tidak melukai atau memotong hewan tersebut. Segera hubungi petugas Dinas Peternakan atau Puskeswan untuk dilakukan pemeriksaan dan penguburan/pembakaran.

2.Penyakit anthraks bersifat menular ke manusia (zoonosis) dan bisa termanifestasi dalam tiga bentuk yakni anthraks kulit, anthraks pencernaan dan anthraks pernafasan. Selengkapnya bisa dilihat Di sini.

3.Daerah yang dinyatakan endemis anthraks harus diberikan vaksinasi secara rutin setiap 6 bulan sekali untuk mencegah terjadinya out break.